PERAN HUTA SIALLAGAN DALAM MEMPERTAHANKAN IDENTITAS BUDAYA BATAK DI ERA GLOBALISASI MELALUI MEDIA SOSIAL DAN PERTUNJUKAN SENI TRADISIONAL

Authors

  • Epi Supriyani Siregar Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia (UPMI), Medan, Indonesia
  • Budi Alamsyah Siregar Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia (UPMI), Medan, Indonesia
  • Ali Mukti Siregar Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia (UPMI), Medan, Indonesia
  • Ika Purnama Sari STIKOM Tunas Bangsa Pematangsiantar, Indonesia
  • Rusdy Ananda Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU), Medan Indonesia

Abstract

Globalisasi telah menghadirkan tantangan serius bagi pelestarian identitas budaya lokal di Indonesia. Data menunjukkan penurunan drastis penggunaan bahasa Batak di kalangan generasi muda dari 78% pada tahun 2010 menjadi hanya 42% pada tahun 2023, mengindikasikan adanya degradasi pemahaman dan penggunaan budaya Batak. Meskipun berbagai upaya pelestarian budaya telah dilakukan, belum ada kajian komprehensif yang mengintegrasikan pendekatan digital dan tradisional secara spesifik, serta belum ada pemahaman mendalam tentang mekanisme bagaimana kedua strategi ini saling berinteraksi dan memperkuat efektivitas pelestarian budaya dalam praktiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas strategi pelestarian identitas budaya Batak melalui integrasi media sosial dan pertunjukan seni tradisional di Huta Siallagan, mengembangkan 440 model teoretis "Digital-Traditional Cultural Preservation Synergy", mengidentifikasi mekanisme sinergi antara kedua pendekatan, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat direplikasi di situs budaya lain di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan desain concurrent embedded strategy yang menggabungkan analisis big data media sosial (Instagram dan YouTube) selama 12 bulan, etnografi digital, observasi partisipatif pada 36 pertunjukan tradisional, wawancara mendalam terhadap 70 informan, survei kepada 300 generasi muda Batak (150 terpapar dan 150 tidak terpapar media sosial), dan 4 sesi Focus Group Discussion. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial (SPSS), thematic analysis (NVivo), dan social network analysis (Python). Media sosial Huta Siallagan berhasil menjangkau 28.500 followers di Instagram dengan engagement rate 6,8% dan 1,2 juta views di YouTube, dengan 48-55% audiens adalah generasi muda. Generasi muda yang terpapar media sosial menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kelompok tidak terpapar pada berbagai indikator: pemahaman sistem dalihan na tolu (+28%), penggunaan bahasa Batak aktif (+19%), pengetahuan ritual adat (+30%), apresiasi seni tradisional (+27%), minat menghadiri pertunjukan tradisional (+35%), dan kebanggaan identitas budaya (+23%). Analisis regresi menunjukkan paparan media sosial (β=0,412) dan pengalaman langsung pertunjukan (β=0,386) merupakan dua faktor terkuat yang mempengaruhi apresiasi budaya. Konten video pertunjukan Tor-tor memiliki engagement tertinggi (8,5%), diikuti storytelling sejarah (7,2%). Sentiment analysis menunjukkan 78% komentar bersifat positif dengan tema dominan kebanggaan budaya dan minat berkunjung. Strategi pelestarian budaya yang mengintegrasikan media sosial dan pertunjukan tradisional di Huta Siallagan terbukti efektif dalam mempertahankan identitas budaya Batak di era globalisasi. Model "Digital-Traditional Cultural Preservation Synergy" menjelaskan bahwa media sosial berfungsi sebagai "gerbang awal" menciptakan kesadaran massal, sementara pertunjukan tradisional memberikan pengalaman autentik yang memperdalam pemahaman budaya. Kedua strategi tidak bekerja secara terpisah melainkan saling memperkuat dalam setiap tahap pelestarian budaya. Model dan best practice yang dihasilkan dapat direplikasi di 1.340+ situs budaya lain di Indonesia untuk menghadapi tantangan pelestarian budaya di era digital

References

Badan Pusat Statistik Kabupaten Samosir. (2023). Statistik Penggunaan Bahasa Batak di Kalangan

Generasi Muda Kabupaten Samosir. Samosir: BPS Kabupaten Samosir.

Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir. (2023). Data Kunjungan Wisatawan Huta Siallagan Tahun 2022-

2023. Samosir: Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir.

Giddens, A. (1990). The Consequences of Modernity. Stanford: Stanford University Press.

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities

of Social Media. Business Horizons, 53(1), 59-68.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2022). Data Keberagaman Suku Bangsa dan Bahasa di

Indonesia. Jakarta: Kemendikbud RI.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Nasution, R. (2018). Pelestarian Budaya Batak Melalui Pariwisata: Studi Kasus di Kabupaten Samosir.

Jurnal Antropologi Indonesia, 12(2), 145-162.

Sedyawati, E. (2006). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo

Persada.

Siahaan, M. (2020). Strategi Digital dan Tradisional dalam Pelestarian Budaya Lokal di Era Globalisasi.

Jurnal Komunikasi dan Budaya, 8(1), 78-95.

Tim Pengelola Huta Siallagan. (2023). Laporan Analisis Media Sosial dan Kunjungan Wisatawan Huta

Siallagan Tahun 2023. Samosir: Huta Siallagan.

UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris:

UNESCO.

Vergouwen, J. C. (1964). The Social Organisation and Customary Law of the Toba-Batak of Northern

Sumatra. The Hague: Martinus Nijhoff.

Downloads

Published

2025-12-31